Welcome to your success

Being yourself means learning to be successful since all human beings have the same chance to be successful

Sabtu, 15 Oktober 2016

Essay Dakwah Walisongo



ISLAMIC MOVIE DAY
FE UI
Kombinasi Dakwah Walisongo dan Dakwah Abad 21 dalam Perfilman Indonesia 
oleh 
Rohaya Rahmadani
            Pemujaan terhadap kekayaan materil merupakan gambaran orientasi sebagian masyarakat yang memasuki era globalisasi. Ini bukanlah fakta yang mengejutkan menyadari kurangnya pengetahuan dan kesiapan masyarakat sehingga mereka menerima segala bentuk pengaruh tanpa melalui seleksi “apa pengaruh tersebut sesuai dengan fitrah manusia?”. Islam berdiri menjulang bagai sebuah mercusuar yang mampu menjangkau setiap pelosok yang diselimuti kegelapan. Analogi tersebut kiranya tidak berlebihan. Ketika manusia di jazirah Arab diperbudak oleh kebodohan, Islam menawarkan solusi cerdas agar manusia hidup sesuai dengan tujuan penciptaannya sebagai pemimpin di muka bumi. Keistimewaan yang tidak dimiliki ajaran lain selain Islam adalah universalitas sistem nilai. Islam melindungi setiap muslim dengan tetap merangkul mereka yang berseberangan. Sifat ajaran Islam ini konsisten sampai pada akhirnya manusia diantarkan ke zaman yang kaya akan hasanah ilmu pengetahuan. Salah satu prakteknya adalah dakwah walisongo; Sembilan orang yang hidup di zaman serba terabatas. Kondisi itu tidak lantas menghalangi kreativitas dan daya analisis mereka untuk mengajak lebih banyak orang menuju kebahagiaan melalui ajaran Islam. Mereka begitu meyakini kebenaran Islam dan memperoleh nikmat yang tidak terhingga. Mereka belajar untuk menjalani hidup dengan penuh semangat karena Allah sebagai tujuan hidup. Mereka hidup dengan seimbang antara materi dan spiritual melalui konsep tawazun. Mereka belajar menjadi sosok sederhana namun mampu mengubah dunia karena Rasulullah sebagai tauladan dalam berkata dan berprilaku. Mereka paham bagaimana harus melangkah di muka bumi karena Al Qur’an adalah peta hidup mereka. Keyakinan inilah yang menguatkan mereka untuk mengajak orang lain ikut menikmati manis dan indahnya Islam. Sayang sekali jika hanya mereka yang merasakan kebahagiaan itu. Namun, ternyata keinginan mereka menemui tantangan dimana pada saat itu wilayah nusantara dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan Buddha. Keluhuran budi pekerti yang merupakan buah manis dari keyakinan pada Islam menuntun mereka untuk memandang persoalan itu dengan cerdas. Mereka tidak menjadikan ajaran yang telah tersebar sebagai musuh yang harus dibasmi. Mereka justru berpikir bahwa kondisi itu sangat mempermudah tersampaikannya pesan dakwah (Hadiseyono, 2009). Di bawah pengaruh ajaran Hindu dan Buddha, masyarakat Indonesia menggemari seni musik dan arsitektur. Walisongo mulai menampilkan keindahan Islam dengan membuat masjid dengan ukiran pura, contohnya Masjid Kudus. Tidak hanya itu, mereka mengemas nasihat dan petuah dalam bentuk seni wayang, gamelan, dan tabuh bedug. Masyarakat mulai melirik Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi toleransi.  Dari sekian banyak penduduk setempat, tidak 100% masyarakatnya memeluk Islam. Meski demikian, mereka hidup berdampingan dengan harmonis dan setiap orang tetap bisa menikmati apapun bentuk pertunjukan seni yang disajikan kaum muslimin. Islam tidak lantas menjadi ekskulsif bagi kelompok tertentu namun tidak juga kompromi dalam aqidah. Semua pesan itu tersampaiakan melalui ukiran masjid, bait dan syair sederhana, serta akhlak kaum muslimin dalam bersosialisasi. Ternyata keterbatasan sarana dakwah tidak menghalangi cahaya Islam untuk menuntun manusia menuju suatu peradaban.
            Generasi dakwah walisongo begitu ideal. Namun, pergantian generasi yang satu oleh generasi lain merupakan hukum alam. Secara tidak langsung walisongo telah memindahtangankan tugas mulia tersebut kepada generasi baru, khusunya pemuda. Sudah terlalu banyak orang yang meyakini energi generasi muda yang menggentarkan dan menggemparkan. Keyakinan ini telah terbukti dengan keberadaan mereka, terutama mahasiswa, di garda terdepan sebagai penggagas perlawanan terhadap para pemimpin yang diktator. Namun, ada satu tugas di balik layar yang tidak kalah pentingnya dibanding masalah politik, ekonomi, serta pertahanan dan keamanan. Itulah akhlak. Misi penyelamatan akhlak membutuhkan lebih banyak energi karena pergerakannya merupakan perang pemikiran melawan pengaruh buruk yang meracuni pikiran masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan pemikiran kreatif , strategis, dan kritis para pemuda yang bertekad kuat menyampaikan kebaikan sekuat tekad walisongo.
            Era globalisasi membawa begitu banyak pengaruh. Aliran informasi telah menembus batas ruang dan waktu. Salah satu media yang paling banyak digunakan adalah televisi, tidak terkecuali di Indonesia. Direktur Telecom Practice Nielsen Indonesia, Viraj Juthani, mengumumkan hasil survey yang diadakan di beberapa kota besar di Indonesia yang menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menonton televisi selama 20 jam 18 menit per minggu. Sinetron adalah program televisi yang menempati posisi tertinggi sebagai program yang paling banyak ditonton masyarakat nusantara. Masyarakat menjadi korban tayangan yang sebagian besar tidak mendidik sehingga tidak lagi memuat amanat pemerintah untuk mendidik masyarakat melalui film. Banyak pihak menyalahkan globalisasi sebagai penyebab degradasi nilai. Pasalnya, masyarakat justru lebih akrab dan dekat dengan media-media elektronik hasil globalisasi daripada mengkaji agamanya. Memang benar bahwa televisi menyebabkan orang sedikit membaca, mengurangi kreativitas dan konsentrasi, membentuk pola pikir sederhana, dan kematangan seksual lebih cepat. Akan tetapi, faktor lain yang perlu diperhatikan juga adalah kurang kuatnya landasan aqidah masyarakat. Budaya kritis sebenarnya dapat memutus rantai penayangan program yang tidak berkualitas. Namun, budaya berpikir demikian tidak dipupuk dengan baik. Sayangnya, kondisi ini oleh produsen film diartikan sebagai suatu sambutan baik penonton. Terlepas dari faktor-faktor tersebut, yang perlu diperhatikan dalam hal ini bahwa teknologi akan membawa manfaat di tangan orang yang tepat. Menyalahkan globalisasi bukanlah suatu penyelesaian. Menghentikan arus globalisasi juga merupakan tindakan yang mustahil dilakukan. Inilah tantangan dakwah abad 21. Sama halnya dengan dakwah walisongo yang juga menemui hambatan. Akan tetapi,keyakinan mereka lebih besar daripada tantangan yang ada. Tidak heran gagasan kreatif yang belum pernah orang lain pikirkan lahir dari otak cemerlang mereka. Tantangan mereka pandang sebagai katalisator yang mempercepat tersampaikannya pesan kebaikan agar manusia hidup sesuai fitrahnya. Dengan kondisi yang hampir sama, apa yang bisa juru dakwah abad 21 lakukan untuk mengepakkan sayap Islam yang diyakini universal ini? Bagaimana mereka memodifikasi media yang ada agar bermanfaat bagi umat?
Sebuah polling diadakan untuk mengetahui 25 program televisi yang paling banyak menarik perhatian masyarakat.  Sebelas diantaranya adalah sinetron. Setelah diputarnya film Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, sinetron-sinetron bergenre drama religi semakin menjamur. Keberadaan sinteron jenis ini menjadi tantangan tersendiri bagi generasi dakwah adab ini. Betapa tidak. Film atau sinetron yang sepertinya menghembuskan nafas Islami namun pada kenyataannya sama sekali bertentangan. Di satu adegan, perilaku para pemainnya kental dengan petuah seperti seorang khatib yang sedang memberi khutbah Jum’at atau hari raya, namun pada adegan yang lain justru yang ditampilkan adalah dua orang yang bukan muhrim bagi satu sama lain dengan interaksi yang tidak syar’i. Adegan pertama yang penulis sebutkan tadi bukanlah satu-satunya cara berdakwah. Justru sedikit terasa kuno. Petuah perlu dikemas dengan cara yang lebih menarik. Selain itu, dakwah bil hal (melalui perbuatan) justru lebih melekat di ingatan objek dakwah. Adegan kedua yang penulis sebutkan berpotensi pada terjadinya penyelewengan nilai syar’i. Film yang disuguhkan kepada penonton belum menunjukkan kesempurnaan nilai Islam dimana sistem nilai itu dapat ditempatkan di aspek hidup manapun dan kondisi apapun. Selain itu, film yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi swasta sebagian besar merupakan cerita fiktif. Penonton diajak menjelajahi dunia antah berantah yang jaraknya terlalu jauh dari kehidupan mereka. Memang tidak ada yang salah dengan cerita imajinatif. Namun bukan berarti penonton terseret menjauhi budaya, yaitu budaya timur dan justru lebih dekat dengan budaya barat dalam hal gaya hidup bebas dan perilaku konsumtif. Keanehan yang muncul dalam sinetron-sinetron tidak banyak disadari oleh penonton,  terutama remaja. Mereka berperan sebagai pihak yang pasif. Mereka menerima apa yang disuguhkan tanpa mengkritisi bagian atau nilai yang tidak sesuai. Satu contoh konkrit ketika seorang pemeran siswi Sekolah Menengah Atas yang menggunakan pakaian serba mini dengan aksesoris yang berlebihan. Dalam kehidupan nyata, tidak ada guru manapun yang akan mengizinkan siswanya berpakaian sedemikian rupa karena pada hakikatnya sekolah adalah tempat seseorang dididik bukan hanya aspek intelegensi, namun juga aspek emosional dan spiritual. Dengan demikian, apa yang disaksikan penonton tidak mencerminkan gambaran yang seharusnya ditunjukkan. Yang ditonjolkan justru ketika cinta tumbuh di lingkungan sekolah atau kelas. Secara kritis, penonton seharusnya bertanya “kenapa kami tidak ditunjukkan motivasi hidup atau motivasi belajar?” atau “bagaimana lingkungan sekolah atau kelas mengajarkan toleransi antar umat beragama?” Bukan hanya itu. Sebagai public figure, tokoh-tokoh pemeran dalam sinetron menjadi contoh bagi masyarakat dalam berkata dan bertingkah laku mengingat intensitas interaksi penonton dan sinetron di Indonesia terbilang cukup tinggi. Sayangnya, para pemeran tidak menunjukkan nilai-nilai universal dan luhur dalam dirinya. Mereka tidak menunjukkan sempurnanya akhlak seorang muslim sebagaimana yang telah Rasulullah sampaikan. Ketika seseorang telah menjadi panutan, setiap geraknya tidak lepas dari sorotan orang lain. Di dalam sinetron pemeran bisa saja menyampaikan pesan dakwah sesuai dengan script. Akan tetapi, apa yang mereka sampaikan bertolak belakang ketika mereka muncul di luar sinetron. Dengan demikian, sinetron bukan hanya sarana meraih rating dan memenuhi permintaan pasar. Sinetron sebagai sarana dakwah lebih dari sekedar tujuan komersial. Ada tujuan yang lebih mulia daripada sekadar meraup keuntungan, yaitu mengajak manusia hidup sesuai dengan hakikat penciptaannya.
Para juru dakwah generasi baru ditantang untuk menyalurkan kreativitasnya untuk mengimbangi sinetron religi yang berorientasi pada komersialitas. Ada begitu banyak pemuda kreatif di Indonesia yang telah berhasil mewarnai perfilman tanah air dengan karya-karyanya yang mendidik, sebut saja Andrea Hirata dengan film Laskar Pelangi dan Habiburrahman El-Syirazi yang sukses dengan dua filmnya. Potensi kuantitas pemuda yang besar adalah kekuatan yang belum termanfaatkan. Jika ratusan dari jutaan pemuda Indonesia saja melakukan revolusi perfilman berkarakter yang menitikberatkan pada interkasi antara kenyataaan hidup yang dihadapi manusia dan nilai-nilai Islam yang universal dengan polesan kreativitas pemuda yang sesuai dengan tren perfilman di tanah air, film akan berperan sebagaimana yang diamanatkan pemerintah dalam UU No. 8 tahun 1992 tentang Perfilman. Dengan demikian, kombinasi dakwah walisongo dan dakwah abad 21 dalam perfilman Indonesia adalah formulasi yang paling tepat untuk memanfaatkan media sesuai dengan peruntukannya untuk mendidik masyarakat memasuki era globalisasi.

















Daftar Pustaka
Anonim. 212. 25 Acara Televisi Paling Banyak Ditonton tahun 2011.Diperoleh dari http://alfredoelectroboy3.wordpress.com/2012/01/20/12264/ pada 29 Januari 2012
Hadiseyono. 2009. Memahami Metode Dakwah Walisongo. Diperoleh dari http://satriopinandito.wordpress.com/ pada 20 Januari 2012
Purwanto, Didik &Wicaksono Surya Hidayat. 2011. Survei: Orang Indonesia Hanya "Online" 2 Jam Per Hari. Kompas.com. Diperoleh dari http://tekno.kompas.com/read/2011/11/15/14212638/Survei.Orang.Indonesia.Hanya.Online.2.Jam.Per.Hari. pada 29 Januari 2012
Sudriman. 2008. Metode Dakwah; Solusi Untuk Menghadapi Problematika Dakwah Masa Kini. Diperoleh dari http://www.uinsuska.info/dakwah/attachments/093_08metodedakwah.pdf pada 20 Januari 2012
Undang-Undang Republik Indonesia No. 8 tahun 1992 tentang Perfilman. Diperoleh dari http://www.kpi.go.id/download/regulasi/UU%20No.%208%20Tahun%201992%20tentang%20Perfilman.pdf pada 29 Jnuari 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar