Muslimah adalah salah satu harta yang Allah ciptakan sebagai anugerah bagi alam semesta. Begitu tangguh muslimah sebenarnya walau mungkin tidak selalu ditunjukkan dengan menunnggang kuda bermil-mil, tidak juga dengan hujaman pedang. Bukan kekuatan fisik yang membuat orang terperangah, namun kekuatan mereka yang tidak dapat digambarkan, tak terukur, bahkan tersembunyi. Hal ini kiranya tidak berlebihan jika menilik perjuangan para sahabiyah di belakang panggung perang. Ketegaran mereka ketika ditinggalkan oleh suami, anak, atau saudara adalah buah manis keimanan. Mereka melabuhkan cinta tertinggi mereka pada Allah sehingga mereka berkorban demi tegaknya agama Allah tanpa berfikir dua kali untuk berkata “ya” saat kerelaan mereka dipertanyakan. Cinta mereka bukanlah cinta yang membutakan mata yang menghalangi mereka meraih kebahagiaan hakiki. Merekalah adalah potret muslimah sejati, muslimah yang mampu menempatkan cinta secara proporsional. Cinta Allah dan rasulNya sebagai cinta tertinggi, tanpa melupakan saudara atau saudari seakidah. Merekalah sosok muslimah dambaan umat yang dengan kekuatannya mampu menggetarkan hati. Kelembutan mereka bukan berarti kelemehan. Justru kelembutan mereka adalah penyejuk ketika orang hanya menjadi rasionalis.
Tidakkah kita juga mendambakan menjadi muslimah dambaan? Hal ini menjadi dilematis bagi muslimah karena disaat yang sama kita dihadapkan dengan dinamika kehidupan dengan segala kebaikan dan juga keburukannya. Hal yang terpenting adalah dilema bukan berarti kita harus berada di area abu, memposisikan diri di tengah-tengah. Disinilah seharusnya muslimah menunjukkan sikap dan jati dirinya serta berani mengambil keputusan. Rasanya sudah jelas tuntunan Rasulullah SAW untuk berdakwah, menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Namun, pertanyaan yang juga dilematis Masih bisakah kita mempertahankan pedoman Rasulullah? Subhanallah, begitu kaffah Islam. Semua aturan di dalamnya jelas dan selalu relevan dengan perkembangan zaman sehingga tidak ada alasan bagi kita mencari pedoman selain Qur’an dan hadits. Inilah titik lemah seseorang. Semakin banyak orang meragukan relevansi Qur’an dan hadits. Jika saja kita mau duduk sejenak, satu jam saja mendalami kedua pedoman itu, maka kita, muslimah akan menjadi pioner pengubah peradaban.
Salah satu dinamika kehidupan yang tidak bisa kita hindari adalah kemajuan teknologi atau yang lebih dikenal dengan istilah dunia IT (Information and technology). Teknologi identik dengan globalisasi, suatu era dimana alur informasi mengalir deras, jarak dan waktu semakin tak berarti. Semakin hari teknologi dan informasi menciptakan persaingan sengit di beberapa kalangan pebisnis. Teknologi terkadang berbelok beberepa derajat dari peruntukannya, yaitu yang seharusnya mempermudah urusan manusia. Kini, pihak-pihak tertentu berlomba meluncurkan teknologi terbaru dan beberapa diantaranya mengorbankan konsumen. Misalnya transaksi melaui internet yang kelihatannya berkelas nampu ternyata hanya praktik penipuan. Ditambah lagi dengan adanya jejaring sosial yang sering melenakan sampai membuat orang lupa waktu dan sayangnya banyak orang menjadi latah dengan kemajuan teknologi tanpa mampu memilah teknologi apa yang kiranya dapat medekatkan kita pada tujuan penciptaan manusia, yaitu beribadah. Inilah cara musuh-musuh Islam mengelabui kita, termasuk wanita yang pada dasarnya lemah dan mudah terpengaruh. Orang selalu menganggap baik segala sesuatu yang dianggap modern sehingga timbullah istilah kolot dan gaptek yang kadang-kadang diarahkan pada muslimah. Muslimah terkesan tertutup dengan dunia luar, termasuk dengan teknologi. Lantas bagaimana kita seharusnya bertindak terkait hal ini ? Akankah kita menjauhi teknologi karena sisi buruk tersebut? Atau akankah kita mengikuti perkembangan teknologi karena tuntutan zaman? Dimanakah posisi teknologi dalam kehidupan seorang muslimah?
Pertanyaan diatas kiranya tepat untuk ditujukan pada diri kita. Hal utama yang perlu kita ingat dan pegang tuguh adalah tujuan penciptaan kita, yaitu beribadah. Ibadah dapat kita realisikan dalam banyak cara, salah satunya dengan menegakkan kalimat Allah. Untuk menegakkan agama dan kalimat Allah juga ada banyak cara yang bisa kita lakukan, salah satunya dengan teknologi. Hubungan ini adalah salah satu bentuk relevansi Al Qur’an, hadits, dan teknologi. Disnilah saharusnya posisi teknologi dalam hidup seorang muslimah, yaitu konteks perjuangan membela agama Allah dan mempertahankan kejayaan Islam. Meraih kejayaan tentu tidak mudah bagi Rasulullah, sahabat, dan sahabiyah. Mempertahankan kejayaan itu pun jauh lebih sulit, namun bukan berarti tidak mungkin. Dengan demikian sudah jelas bahwa tujuan seorang muslimah memperlajari teknologi, tiada lain sebagai sarana dakwah. Dengan menetapkan tujuan mulia ini, Insya Allah, muslimah tidak akan buta akan teknologi dan juga tidak terseret dalam derasnya arus teknologi.
Inilah momen yang tepat bagi muslimah untuk menempatkan diri dan membuktikan kesejatian mereka. Tentu tidak dengan perang fisik, karena sebenarnmya kita sedang menghdapi perang yang lebih ganas, yaitu, perang pemikiran. Inilah sebenarnya inti perjuangan seorang muslimah di zaman ini. Peperangan ini membutuhkan strategi yang matang dan siasat yang jitu sehingga kita tidak tertindas setelah kejayaan Islam. Menghadapi isu-isu yang sekarang ini tengah dihapi kaum muslim, muslimah seharusnya bijaksana dalam menyikapi isu ini karena sikap kita akan membawa wajah Islam sehingga kemana pun kita melangkah, kita mengemban amanah mensyiarkan Islam. Karena teknologi saat begitu dekat dengan kehidupan, kita pun bisa memanfaatkannya sebagai sarana syiar Islam. Kini sudah banyak ikhwah yang membuat blog mengenai segala sesuatu tentang Islam yang dikemas dengan cara yang menarik. Ada juga yang memanfaatkan teknologi untuk membuat video singkat yang menyentuh hati dan tidak jarang memberi hidayah bagi banyak orang untuk kembali ke jalanNya melalui tuntunan Rasulullah. Bahkan, ada juga orang-orang di luar Islam yang terpukau dengan keagungan Islam melalui kaligrafi yang dipublikasikan melaui internet. Kehadiran muslimah melalui sarana komunikasi semacam jejaring sosial mewadahi saudara/saudari kita yang ingin menyatukan langkah di jalan dakwah. Subhanallah, jika setiap muslimah mampu melakukan hal demikian, surga dan seisinya akan jadi milik kita. Alangkah mulianya kita ketika kita bisa membantu saudara kita lebih dekat dengan Allah dan Islam.
Di balik perkembangan teknologi yang begitu pesat, ternyata masih banyak saudara kita yang belum juga mengenal apalagi akrab dengan teknologi yang sudah jelas membantu perjuangan kita. Setelah memposisikan diri terhadap teknologi, inilah “PR” kita selanjutnya, mengenalkan saudara kita dengan teknologi. Terkadang ada tugas dakwah yang urgen, seperti publikasi kegiatan syiar Islam atau mengklarifikasi isu-isu terhadap Islam. Salah satu contoh pentingnya teknologi pentingnya teknologi yaitu ketika di Jerman diadakan voting mengenai keberadaan Islam. Suara umat sangat menentukan dihapus atau tidaknya Islam dari negara itu. Pada saat-saat seperti inilah kita membutuhkan kader sigap, tanggap, dan cekatan yang keahliannya dapat dimanfaatkan kapan pun dan dimana pun. Dengan teknologi, seperti e-mail kita juga dapat segera mengetahui keadaan saudara/saudari kita di Palestina. Sebuah surat yang dikirim saudara kita langsung dari Palestina mengetuk pintu hati kita untuk selalu bersyukur dan tetap memperjuangkan Islam. Saat itu, hanya dengan e-mail mereka bisa mengabarkan kita. Inilah yang Allah sebutkan dalam firmanNya “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu merugi. Kecuali mereka yang beriman dan banyak berbuat amal shaleh dan saling berpesan-pesanan satu sama lain dengan kebenaran dan kesabaran” (Q.S. Al Ashr:1-3). Kini muslimah tidak perlu memandang teknologi sebagai suatu petaka karena status petaka atau rahmat tergantung dari niat seseorang dalam pemanfaatannya. Karena kita menggunakan teknologi sebagai sarana dakwah, tentu teknologi adalah rahmat bagi kita semua.
Kini sudah saatnya kita menghentakkan kaki dengan mantap di jalan dakwah ini. Mari kita bersama mengukir sejarah perjuangan Islam di era globalisasi yang Insya Allah tidak kalah suksesnya dengan perjuangan para sahabiyah di zaman Rasulullah. Kitalah sahabiyah di zaman ini karena tentu zaman terus berganti. Ini bukan berarti kita mengikuti zaman. Zaman akan tetap tunduk pada Islam. Ini hanyalah sebuah strategi dan pendekatan yang kita gunakan untuk mempertahankan kejayaan Islam karena sungguh tidak akan ada agama yang kaffah dan abadi selain Islam. Namun demikian, kita tidak bisa menutup mata dengan kenyataan bahwa umat muslim semakin terpengaruh dengan budaya barat dan terkadang tidak menunjukkan kebanggaannya sebagai seorang muslim. Para musuh Islam telah mengatur strategi dengan matang untuk menjauhkan pemuda dari Al Qur’an. Salah satu cara yang dapat kita gunakan untuk mengembalikan saudara kita kepada cahaya Islam adalah dengan mengimbangi dan melebihi serangan mereka melalui teknologi. Hal ini bukan tidak mungkin kita lakukan. Dengan bekal pengetahuan teknologi, ukhuwah Islamiah, Rasul sebagai penuntun, dan Allah sebagai pelindung, Insya Allah, serangan orang-orang kafir dapat kita imbangi karena kita berpijak pada niat yang suci. Semoga dengan pandangan ini muslimah dapat menjalankan peran strategisnya sebagai pendukung dakwah, meski di belakang panggung, seperti yang dicontohkan oleh para sahabiyah. Kita tidak sedang menunggu saudari kita yang lain untuk bergerak. We are who we wait. Kita adalah yang kita tunggu. Menunggu pun tidak akan berguna tanpa bergerak. Apa yang kita tunggu? Momen yang tepat? Muslimah, inilah momen yang tepat untuk mulai menyusun langkah strategis dengan berbekal kemampuan dan keahlian yang kita miliki untuk mempertahankan kilau kejayaan Islam. Allah akan menghitung setiap butir ibadah dan perjuangan kita dan cukuplah janji Allah sebagai pupuk sehingga di kehidupan nanti yang hakiki kita dapat menikmanti buah manis keimanan dan perjuangan yang dulunya sudah kita semai dan tumbuh menjadi kekuatan yang kokoh. Allahu Akbar!!!