Welcome to your success

Being yourself means learning to be successful since all human beings have the same chance to be successful

Sabtu, 15 Oktober 2016

Cerpen "Jangan Begitu"



JANGAN BEGITU
oleh 
Rohaya Rahmadani
Dimuat dalam Kumpulan 20 cerpen BEM FKIP 2012
“Aku malu”, kata Ariani merengek di depan cermin kamarnya.
“Aku cantik. Tapi selalu ada yang kurang rasanya pada diriku. Aku tidak suka badanku. Aku ingin kembali seperti dulu. Tidak segemuk ini”, lanjut Ariani dengan nada memprotes.
Kehidupan yang serba ada kerap kali memanjakan Ariani. Hobinya berbisnis. Segala bisnis dapat dikelolanya sengan ulet. Walhasil, dia tidak tahu harus diapakan lipatan uand di dompet mahalnya. Mulailah dia mengeluarkan selembar demi selembar untuk keperluan tertier. Entah lupa tau sengaja lupa, tidak pernah terlintas dipikiran Ariani bahwa saat ini keponakannya sedang berjuang melawan tumor di tengah keterbatasan ekonomi pamannya –orang yang selama ini mengasuh Ariani setelah ayah ibunya meninggal-.
Ariani memutuskan untuk memulai hidup sehat. Dia berlari selama 30 menit setiap pagi meski terkadang rasanya dia mau pingsan karena berlari di luar kemampuannya. Maklum, dia bernafsu sekali ingin segera mendapatkan bentuk tubuh idealnya. Setelah satu bulan menjalani rutinitas itu, Ariani sadar bahwa mengembalikan bentuk tubuhnya tidak semudah ketika ia membeli makanan kesukaannya.
Suatu ketika Ariani bernazar untuk menyantuni orang kurang mampu di sekitarnya jika dia berhasil menemukan cara mengatasi lemak tubuh yang terus menumpuk itu. Sejak itu, Ariani mencoba berpuluh-puluh macam obat baik yang herbal maupun yang alami, mulai dari metode tradisional sampai yang paling modern. Sayangnya, belum ada satu pun pengobatan yang member tanda-tanda bahwa berat badannya akan segera turun.
Ditengah kesibukannya menurunkan berat badan Ariani tetap menjalankan dan memperluas cakupan bisnisnya. Dia mencoba berbisnis di bidang pengobatan herbal untuk pertama kalinya. Dia cukup terperangah dengan penjelasan distributor yang menyampaikan khasiat obat tersebut. Tampak tidak dibuat-buat. Dia mencoba obat itu. Dia merasakan reaksi aneh dalam tubuhnya. Dia terus berkeringat selama berhari-hari. Namun dia tidak sadar bahwa dia tida            k mengkonsumsi kudapan sesering kebiasannya setiap hari.
Pagi itu ia bercermin dan melihat pipi dan perutnya agak kempis. Dia spontan lonjat setinggi-tingginya. Dia girang. Teman-temannya pun ikut berbahagia.
Akan tetapi entah dari mana pikiran nyentrik itu muncul. Dia mersa sudah menemukan obatnya. Berarti dia bisa menurunkan berat badan kapan pun dia mau. Dia kembali pada kebiasaannya mengkonsumsi snack berlebih.
Suatu saat dia menerima undangan pernikahan rekannya satu angkatan di perkuliahan. Dia ingin tampak cantik datang ke pesta itu. Rentang waktu satu minggu dia rasa cukup untuk menurunkan berat tubuhnya dengan hasil maksimal.
Dia minta dikiramkan barang oleh distributor yang biasanya mengantarkan obat itu. Ternyata kebetulan hari itu stick sedang kosong. Dia memutuskan untuk menanyakannya keseesokan harinya. Begitu seterusnya sampai H-2. Ariani mulai khawatir. Hanya tertinggal satu hari baginya untuk mendapatkan obat itu. Ternyata sangat pahit kenyataan yang harus ditelannya. Obat itu sudah tidak di distribusikan lagi. Tinggallah impian itu impian yang tidak akan menemukan realisasinya.
Sejak itu ariani banyak merenung. Dalam renungannya ia ingat bahwa ia melupakan satu janji: menyantuni orang terdekatnya. Sontak ia menangis ketika hatinya tersambung pada keponakannya. Malam itu juga ariani berangkat ke kampung halamannya di Sumbawa. Dia membantu pamannya semampunya. Setelah merasa cukup, ariani pun kembali ke mataram karena harus melanjutkan kuliah. Di terminal ketika sedang menunggu bus, ada seorang pria paruh baya menenteng tas dan beberapa produk obat di tangannya. Ariani tidak asing dengan obat yang nangkring di tas penjual itu. Dia berlari dan meminta lelaki itu mengeluarkan obat yang ia tunjuk. Ternyata itu obat yang selama ini ia cari yang ketidakberadaannya menyadarkan ariani untuk tidak manja di tengah kemudahan yang di berikan Tuhan. Intinya jangan menunda. Karena dengan menunda seseorang membutuhkan energy dan wajtu dua kali lebih banyak untuk melakukannya kemudian.



Essay Dakwah Walisongo



ISLAMIC MOVIE DAY
FE UI
Kombinasi Dakwah Walisongo dan Dakwah Abad 21 dalam Perfilman Indonesia 
oleh 
Rohaya Rahmadani
            Pemujaan terhadap kekayaan materil merupakan gambaran orientasi sebagian masyarakat yang memasuki era globalisasi. Ini bukanlah fakta yang mengejutkan menyadari kurangnya pengetahuan dan kesiapan masyarakat sehingga mereka menerima segala bentuk pengaruh tanpa melalui seleksi “apa pengaruh tersebut sesuai dengan fitrah manusia?”. Islam berdiri menjulang bagai sebuah mercusuar yang mampu menjangkau setiap pelosok yang diselimuti kegelapan. Analogi tersebut kiranya tidak berlebihan. Ketika manusia di jazirah Arab diperbudak oleh kebodohan, Islam menawarkan solusi cerdas agar manusia hidup sesuai dengan tujuan penciptaannya sebagai pemimpin di muka bumi. Keistimewaan yang tidak dimiliki ajaran lain selain Islam adalah universalitas sistem nilai. Islam melindungi setiap muslim dengan tetap merangkul mereka yang berseberangan. Sifat ajaran Islam ini konsisten sampai pada akhirnya manusia diantarkan ke zaman yang kaya akan hasanah ilmu pengetahuan. Salah satu prakteknya adalah dakwah walisongo; Sembilan orang yang hidup di zaman serba terabatas. Kondisi itu tidak lantas menghalangi kreativitas dan daya analisis mereka untuk mengajak lebih banyak orang menuju kebahagiaan melalui ajaran Islam. Mereka begitu meyakini kebenaran Islam dan memperoleh nikmat yang tidak terhingga. Mereka belajar untuk menjalani hidup dengan penuh semangat karena Allah sebagai tujuan hidup. Mereka hidup dengan seimbang antara materi dan spiritual melalui konsep tawazun. Mereka belajar menjadi sosok sederhana namun mampu mengubah dunia karena Rasulullah sebagai tauladan dalam berkata dan berprilaku. Mereka paham bagaimana harus melangkah di muka bumi karena Al Qur’an adalah peta hidup mereka. Keyakinan inilah yang menguatkan mereka untuk mengajak orang lain ikut menikmati manis dan indahnya Islam. Sayang sekali jika hanya mereka yang merasakan kebahagiaan itu. Namun, ternyata keinginan mereka menemui tantangan dimana pada saat itu wilayah nusantara dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan Buddha. Keluhuran budi pekerti yang merupakan buah manis dari keyakinan pada Islam menuntun mereka untuk memandang persoalan itu dengan cerdas. Mereka tidak menjadikan ajaran yang telah tersebar sebagai musuh yang harus dibasmi. Mereka justru berpikir bahwa kondisi itu sangat mempermudah tersampaikannya pesan dakwah (Hadiseyono, 2009). Di bawah pengaruh ajaran Hindu dan Buddha, masyarakat Indonesia menggemari seni musik dan arsitektur. Walisongo mulai menampilkan keindahan Islam dengan membuat masjid dengan ukiran pura, contohnya Masjid Kudus. Tidak hanya itu, mereka mengemas nasihat dan petuah dalam bentuk seni wayang, gamelan, dan tabuh bedug. Masyarakat mulai melirik Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi toleransi.  Dari sekian banyak penduduk setempat, tidak 100% masyarakatnya memeluk Islam. Meski demikian, mereka hidup berdampingan dengan harmonis dan setiap orang tetap bisa menikmati apapun bentuk pertunjukan seni yang disajikan kaum muslimin. Islam tidak lantas menjadi ekskulsif bagi kelompok tertentu namun tidak juga kompromi dalam aqidah. Semua pesan itu tersampaiakan melalui ukiran masjid, bait dan syair sederhana, serta akhlak kaum muslimin dalam bersosialisasi. Ternyata keterbatasan sarana dakwah tidak menghalangi cahaya Islam untuk menuntun manusia menuju suatu peradaban.
            Generasi dakwah walisongo begitu ideal. Namun, pergantian generasi yang satu oleh generasi lain merupakan hukum alam. Secara tidak langsung walisongo telah memindahtangankan tugas mulia tersebut kepada generasi baru, khusunya pemuda. Sudah terlalu banyak orang yang meyakini energi generasi muda yang menggentarkan dan menggemparkan. Keyakinan ini telah terbukti dengan keberadaan mereka, terutama mahasiswa, di garda terdepan sebagai penggagas perlawanan terhadap para pemimpin yang diktator. Namun, ada satu tugas di balik layar yang tidak kalah pentingnya dibanding masalah politik, ekonomi, serta pertahanan dan keamanan. Itulah akhlak. Misi penyelamatan akhlak membutuhkan lebih banyak energi karena pergerakannya merupakan perang pemikiran melawan pengaruh buruk yang meracuni pikiran masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan pemikiran kreatif , strategis, dan kritis para pemuda yang bertekad kuat menyampaikan kebaikan sekuat tekad walisongo.
            Era globalisasi membawa begitu banyak pengaruh. Aliran informasi telah menembus batas ruang dan waktu. Salah satu media yang paling banyak digunakan adalah televisi, tidak terkecuali di Indonesia. Direktur Telecom Practice Nielsen Indonesia, Viraj Juthani, mengumumkan hasil survey yang diadakan di beberapa kota besar di Indonesia yang menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menonton televisi selama 20 jam 18 menit per minggu. Sinetron adalah program televisi yang menempati posisi tertinggi sebagai program yang paling banyak ditonton masyarakat nusantara. Masyarakat menjadi korban tayangan yang sebagian besar tidak mendidik sehingga tidak lagi memuat amanat pemerintah untuk mendidik masyarakat melalui film. Banyak pihak menyalahkan globalisasi sebagai penyebab degradasi nilai. Pasalnya, masyarakat justru lebih akrab dan dekat dengan media-media elektronik hasil globalisasi daripada mengkaji agamanya. Memang benar bahwa televisi menyebabkan orang sedikit membaca, mengurangi kreativitas dan konsentrasi, membentuk pola pikir sederhana, dan kematangan seksual lebih cepat. Akan tetapi, faktor lain yang perlu diperhatikan juga adalah kurang kuatnya landasan aqidah masyarakat. Budaya kritis sebenarnya dapat memutus rantai penayangan program yang tidak berkualitas. Namun, budaya berpikir demikian tidak dipupuk dengan baik. Sayangnya, kondisi ini oleh produsen film diartikan sebagai suatu sambutan baik penonton. Terlepas dari faktor-faktor tersebut, yang perlu diperhatikan dalam hal ini bahwa teknologi akan membawa manfaat di tangan orang yang tepat. Menyalahkan globalisasi bukanlah suatu penyelesaian. Menghentikan arus globalisasi juga merupakan tindakan yang mustahil dilakukan. Inilah tantangan dakwah abad 21. Sama halnya dengan dakwah walisongo yang juga menemui hambatan. Akan tetapi,keyakinan mereka lebih besar daripada tantangan yang ada. Tidak heran gagasan kreatif yang belum pernah orang lain pikirkan lahir dari otak cemerlang mereka. Tantangan mereka pandang sebagai katalisator yang mempercepat tersampaikannya pesan kebaikan agar manusia hidup sesuai fitrahnya. Dengan kondisi yang hampir sama, apa yang bisa juru dakwah abad 21 lakukan untuk mengepakkan sayap Islam yang diyakini universal ini? Bagaimana mereka memodifikasi media yang ada agar bermanfaat bagi umat?
Sebuah polling diadakan untuk mengetahui 25 program televisi yang paling banyak menarik perhatian masyarakat.  Sebelas diantaranya adalah sinetron. Setelah diputarnya film Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, sinetron-sinetron bergenre drama religi semakin menjamur. Keberadaan sinteron jenis ini menjadi tantangan tersendiri bagi generasi dakwah adab ini. Betapa tidak. Film atau sinetron yang sepertinya menghembuskan nafas Islami namun pada kenyataannya sama sekali bertentangan. Di satu adegan, perilaku para pemainnya kental dengan petuah seperti seorang khatib yang sedang memberi khutbah Jum’at atau hari raya, namun pada adegan yang lain justru yang ditampilkan adalah dua orang yang bukan muhrim bagi satu sama lain dengan interaksi yang tidak syar’i. Adegan pertama yang penulis sebutkan tadi bukanlah satu-satunya cara berdakwah. Justru sedikit terasa kuno. Petuah perlu dikemas dengan cara yang lebih menarik. Selain itu, dakwah bil hal (melalui perbuatan) justru lebih melekat di ingatan objek dakwah. Adegan kedua yang penulis sebutkan berpotensi pada terjadinya penyelewengan nilai syar’i. Film yang disuguhkan kepada penonton belum menunjukkan kesempurnaan nilai Islam dimana sistem nilai itu dapat ditempatkan di aspek hidup manapun dan kondisi apapun. Selain itu, film yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi swasta sebagian besar merupakan cerita fiktif. Penonton diajak menjelajahi dunia antah berantah yang jaraknya terlalu jauh dari kehidupan mereka. Memang tidak ada yang salah dengan cerita imajinatif. Namun bukan berarti penonton terseret menjauhi budaya, yaitu budaya timur dan justru lebih dekat dengan budaya barat dalam hal gaya hidup bebas dan perilaku konsumtif. Keanehan yang muncul dalam sinetron-sinetron tidak banyak disadari oleh penonton,  terutama remaja. Mereka berperan sebagai pihak yang pasif. Mereka menerima apa yang disuguhkan tanpa mengkritisi bagian atau nilai yang tidak sesuai. Satu contoh konkrit ketika seorang pemeran siswi Sekolah Menengah Atas yang menggunakan pakaian serba mini dengan aksesoris yang berlebihan. Dalam kehidupan nyata, tidak ada guru manapun yang akan mengizinkan siswanya berpakaian sedemikian rupa karena pada hakikatnya sekolah adalah tempat seseorang dididik bukan hanya aspek intelegensi, namun juga aspek emosional dan spiritual. Dengan demikian, apa yang disaksikan penonton tidak mencerminkan gambaran yang seharusnya ditunjukkan. Yang ditonjolkan justru ketika cinta tumbuh di lingkungan sekolah atau kelas. Secara kritis, penonton seharusnya bertanya “kenapa kami tidak ditunjukkan motivasi hidup atau motivasi belajar?” atau “bagaimana lingkungan sekolah atau kelas mengajarkan toleransi antar umat beragama?” Bukan hanya itu. Sebagai public figure, tokoh-tokoh pemeran dalam sinetron menjadi contoh bagi masyarakat dalam berkata dan bertingkah laku mengingat intensitas interaksi penonton dan sinetron di Indonesia terbilang cukup tinggi. Sayangnya, para pemeran tidak menunjukkan nilai-nilai universal dan luhur dalam dirinya. Mereka tidak menunjukkan sempurnanya akhlak seorang muslim sebagaimana yang telah Rasulullah sampaikan. Ketika seseorang telah menjadi panutan, setiap geraknya tidak lepas dari sorotan orang lain. Di dalam sinetron pemeran bisa saja menyampaikan pesan dakwah sesuai dengan script. Akan tetapi, apa yang mereka sampaikan bertolak belakang ketika mereka muncul di luar sinetron. Dengan demikian, sinetron bukan hanya sarana meraih rating dan memenuhi permintaan pasar. Sinetron sebagai sarana dakwah lebih dari sekedar tujuan komersial. Ada tujuan yang lebih mulia daripada sekadar meraup keuntungan, yaitu mengajak manusia hidup sesuai dengan hakikat penciptaannya.
Para juru dakwah generasi baru ditantang untuk menyalurkan kreativitasnya untuk mengimbangi sinetron religi yang berorientasi pada komersialitas. Ada begitu banyak pemuda kreatif di Indonesia yang telah berhasil mewarnai perfilman tanah air dengan karya-karyanya yang mendidik, sebut saja Andrea Hirata dengan film Laskar Pelangi dan Habiburrahman El-Syirazi yang sukses dengan dua filmnya. Potensi kuantitas pemuda yang besar adalah kekuatan yang belum termanfaatkan. Jika ratusan dari jutaan pemuda Indonesia saja melakukan revolusi perfilman berkarakter yang menitikberatkan pada interkasi antara kenyataaan hidup yang dihadapi manusia dan nilai-nilai Islam yang universal dengan polesan kreativitas pemuda yang sesuai dengan tren perfilman di tanah air, film akan berperan sebagaimana yang diamanatkan pemerintah dalam UU No. 8 tahun 1992 tentang Perfilman. Dengan demikian, kombinasi dakwah walisongo dan dakwah abad 21 dalam perfilman Indonesia adalah formulasi yang paling tepat untuk memanfaatkan media sesuai dengan peruntukannya untuk mendidik masyarakat memasuki era globalisasi.

















Daftar Pustaka
Anonim. 212. 25 Acara Televisi Paling Banyak Ditonton tahun 2011.Diperoleh dari http://alfredoelectroboy3.wordpress.com/2012/01/20/12264/ pada 29 Januari 2012
Hadiseyono. 2009. Memahami Metode Dakwah Walisongo. Diperoleh dari http://satriopinandito.wordpress.com/ pada 20 Januari 2012
Purwanto, Didik &Wicaksono Surya Hidayat. 2011. Survei: Orang Indonesia Hanya "Online" 2 Jam Per Hari. Kompas.com. Diperoleh dari http://tekno.kompas.com/read/2011/11/15/14212638/Survei.Orang.Indonesia.Hanya.Online.2.Jam.Per.Hari. pada 29 Januari 2012
Sudriman. 2008. Metode Dakwah; Solusi Untuk Menghadapi Problematika Dakwah Masa Kini. Diperoleh dari http://www.uinsuska.info/dakwah/attachments/093_08metodedakwah.pdf pada 20 Januari 2012
Undang-Undang Republik Indonesia No. 8 tahun 1992 tentang Perfilman. Diperoleh dari http://www.kpi.go.id/download/regulasi/UU%20No.%208%20Tahun%201992%20tentang%20Perfilman.pdf pada 29 Jnuari 2012


9th Economix Essay Competition 2011
Conducted by  Economic Faculty of University of Indonesia

The Triangle Power Strategy in Maximizing Small Medium Enterprises to

Accelerate ASEAN Economic Community 2015 by Rohaya Rahmadani and Soni Ariawan

No country in the world that does not target high rate of economy
 development because it is one of the indicators that determines whether a country
 developed or not. In fact, the economy development of countries in the world is a
 big question for countries with very poor of economy development. It is later
 urgent for some countries with high level of poverty and unemployment. As the
 result, each country implements various program to achieve its economic target.

However, it is impossible to gain it without cooperation with other country. Thus,
 an initiative to gather in a certain region is highly appreciated and a solution as
 well. Association of South Asian Nation (ASEAN) is a form of such cooperation which cooperates in some spheres of life, such as ASEAN Economic Community,

ASEAN Socio-Culture Community, and ASEAN Political-Security Community.

Considering description above, ASEAN Economic Community (AEC) is the most

relevant cooperation. By gathering in AEC, all members of ASEAN can freely

learn from countries which successfully gain high level of economy development.

Most of all, the most important things in AEC are economic integrity and

equitability.

From that cooperation, all members of ASEAN agree to arrange

agreements and strategies. One of the agreements is described into AEC

Blueprint. This declaration reflects the hope of all members. All members hope

that AEC Blueprint will lead their endeavors to achieve at least equal economy

development considering the various economy growths of those countries.

ASEAN members are classified into three categories in term of economy

development. First of all, Singapore is the icon of developed country. Secondly,

the dynamic countries are Malaysia and Thailand. Thirdly, Indonesia, Philippine,

Brunei involve in countries with medium income. The last is countries which is

still undeveloped; they are Cambodia, Myanmar, Laos, and Vietnam (CLMV).

One of the points declared in AEC Blueprint is the implementation of single

market and production base. It means that every single product of a country must

compete with the same kind of product from the other countries. On the other

word, only product with the best quality will get the highest profit. Thus, each

country should be ready to face any possibilities, for example the domination of

certain product by a country. This is conversely a good way to learn about global

economy competition for all members of ASEAN considering their low economy

development when comparing with the other countries with vast number of

products, such as China and India. This condition apparently seems contradiction

with coin as an analogy. There are only two possibilities. It can be profit or

conversely loss. The difference is on how each country maximizes the source it

has. Moreover, the deadline of AEC application is made earlier than before; no

longer in 2020, it is in 2015. This is decided because all countries believe that the

application of AEC must be accelerated because it has numerous advantages for

all members so that the sooner AEC applied the better economic development will

be. In conclusion, by the time AEC applies, all country must be nationally stable

in term of economy development in order to avoid economy development gap

because all aspects, such as flow of services, professionals, investment, capital,

skilled labor will be freer. There is little or even no problem with developed

countries, but the problem is on the countries with low rate of economy

development.

Since the target of AEC is to gain equitable economy development,

economy programs and activities must involve societies because the main purpose

of any economy plans is to stabilize and prosper societies as the components of

country. To realize this plan, some countries initiate programs that involve most

of societies, for example small-medium enterprises. It is the easiest way to realize

it because it does not need too much investment so that anyone can establish it.

Moreover, it has been proven that the number of enterprises in a country can be an

indicator whether its economy can potentially grow or not. As stated by

Sjarifuddin Hasan (Coperation and Small-Medium Enterprises Minister of

Indonesia), to reach continuous economy growth and equitable economy, at least a

country has 2% of enterprise s from the total number of nations. It has been also

proven by some countries that have great economy development. For example,

the percentage of enterprises in Malaysia reaches 2,1%, Thailand 4,1 %, Korea

Selatan 4 %, Singapore 7,2 %, and United State of America 11,5 % (Agus, 2007).

Therefore, it can be concluded that the number of enterprises determines the

economy development because there must be competition among enterprises so

that each countries get used to compete countries with greater influence. Besides,

enterprises can potentially attract either domestic or foreign investors so that a

country can make profit as much as possible. Thus, enterprises should be higher

both in term of quality and quantity. The reluctance of some ASEAN members to

create huge number of enterprises causes vast amount of loss. Even though some

members have obtained promising position in world business, for instance

Thailand (12) , but there are more countries remain in low position, for example

Brunei Darussalam (96) and Indonesia (122) from 185 countries (Doing Business

2010, International Finance Corporation, World Bank). Indeed, empowering

small-medium enterprises involves in strategic target declared in AEC Blueprint.

From those reasons above, it is clear that enterprises will much help a

country to establish stable economy because if a country wants to involve in

global economy, it must possess national economic stability. Now, the question is

that how to stimulate enterprises, small-medium enterprises in particular, to start

activating the economy programs. Actually, the governments of ASEAN members

which has unstable economy have well-concept plan to grow small-medium

enterprises and support it in term of fund regarding it is one of the ways to reach

equitable economy development. The other problem is that how to realize this

well-concept plan. It cannot be simply solved. It requires long processes, yet it is

possible. The writers analyze that the government has not empowered the

university yet to maximize the students to be entrepreneurs. We really know that

students as intellectual groups of persons are potential to be empowered.

Moreover, we believe in the “Triangle Power Strategy”; the power of university,

the power of students and the power of society. Those powers will be integrated in

one branch in order to create an effective small medium enterprise.

The writers propose some mechanisms in the frame of the “Three Power

Strategy” as follow:

1. Inserting entrepreneurship subject as the component of education system in

University

Even though financial support does not work well, there is another alternative to

deal with this phenomenon; by involving the other institution other than

Economic Minister, Trade Minister, and so forth, that is education minister. It at

glance does not show mutual relationship with maximizing small-medium

enterprises. However, this condition forces a country to enhance the quality of

human resource so that it will be ready by the time of AEC implementation.

Human resource can be improved through education system as what developed

countries have proven. For example, if a country wants to improve human

resource quality in term of nationalization, it will involve the hope through

education minister in form of curriculum, specifically into subject. In this case, the

hope of a country to enhance human resource can be realized through the

specification of economy goal itself, for instance entrepreneurship. Inserting

entrepreneurship is the most practical step and university is the closest institution

that can run it. Further, the university students can widely exemplify the practice

of small-medium enterprises to the society.

University is the most promising unit among stages of education and the

closest environment with society. It fits one of principles of university,

worshiping toward society. It means that much or less the society will look at the

quality of the university alumni. It is also a turning point to make a change and

progress in particular for citizens in all spheres of life, including economy, known

as sensitive part in a country because it determines whether a country is

prosperous or not.

University as a unit of education is run with a curriculum system that

reflects the future and hope of a country. Related to economy development, a

country can also insert its target through the smallest unit of education, that is

subject. For example, Indonesia targets vast economy growth within few years.

Using the official data from Small-Medium Enterprises Minister about the

indicator to achieve equitable economy in which at least it is 2% enterprises of

total population, it starts by inserting entrepreneurship as the compulsory subject.

It means that all field of study must learn it with the assumption that the subject

will stimulate greater economy activities, the importance of entrepreneurship

learning from the experience of some countries, and all students are actually

potential to independently establish enterprise. Further, cooperating with fund

minister and trade minister, education minister makes policy to apply

entrepreneurship as compulsory subject in university level.

2. University empowers its students by providing entrepreneurship program

Because the government has decided to involve entrepreneurship as subject, it

must be followed up. Government cooperating with fund minister and trade

minister can supply capital and non capital support (workshop, training, and

seminary). Here, what students obtain from entrepreneurship subject then takes

into the reality so that it will be meaningful learning. For example in Indonesia, in

the University of Mataram in which the writers study, cooperates with a non-
governmental bank in term of capital. Students may establish any kind of small-
medium enterprises by proposing an enterprise proposal. This program called

GEMA (Gerakan Mahasiswa Wirausaha) or students entrepreneurship movement.

The selected enterprise proposal will be funded. This program stimulates students

to starts establishing enterprise. In fact, Mataram University grows more than one

hundred entrepreneurs every year through GEMA. The step is not stagnant until

the student’s environment. The chosen students in GEMA program will

implement those enterprise proposals to the society. This is the summit of this

program when the society takes part as the subject of enterprise through the

students as a mediator. We cannot imagine what will happen if one university can

create more than one hundred entrepreneurs, so how many university are there in

Indonesia? In addition, we believe the “Three Powers Strategy” is the simplest

strategy that government can realize to face AEC 2015.

3. Study comparative

University students are the most appropriate representative of a group of society

since they are intellectuals. After the process of bringing small-medium

enterprises, they can compare the result with the other countries. Here, countries

which are not developed enough can learn how developed country organizes their

enterprises. In this gathering, ASEAN members can take reference from the

success country of SMEs and altogether can be recommendation for other

countries. For example, students from CMLV can easily share their own

mechanism of enterprises so that they know in what way they are lack.

4. Specify the entrepreneurship sector to the priority

In AEC Blueprint, there are twelve priority sectors. The current condition is that

these sectors are being held by industries and companies if single market and

production base are applied if the steps above run properly, it can be proceeded

into the specification of sectors that will receive supply of capital. If this step is

directly practiced, the single market and production base will naturally grow.

5. Evaluation

It is effective to narrow down development gap. It will create competitive region,

and lead to global economy. This is the last step of small-medium enterprises

empowering mechanisms in which students can make a conference by using the

conference provided by AEC, that is ASEAN Communication Plan. All members

of ASEAN through the ASEAN Communication plan can make such kind of

cooperation and arrangement of mechanism which are represented by university

students so that within four years economy development gap can be narrowed.

Small-medium enterprise surprisingly contributes a step to accelerate AEC

2015. It actually has been planned by almost all members of ASEAN as its results

to increase economy development. However, it seems that there is no concrete

movement to maximize it even though each country knows well how it works. In

this case, university has a significant role. The society needs more than a well-
concept plan. Concerning this phenomenon, practice is more valuable to stimulate

society to widely be active in economic activities, entrepreneurship in particular,

because by making sure their participation in it will give a guarantee that economy

development gap can be narrowed down. If the society keeps being active in such

activities, there are two possibilities; being small-medium enterprises practitioners

or being employer. This practice can be provided by university because it is

supported through the curriculum that later creates various programs focusing on

small-medium enterprises. This is the role of university to empower students and

to provide enterprise program. Then, it is the role of students to empower the

society by implementing the enterprise proposal in the environment of society. On

the other word, a country needs only to maximize the existence of small-medium

enterprises and even create new enterprises through the “Three Power Strategy”.

Finally, the writers already gave example in Mataram University through GEMA

program reflected the “Three Power Strategy” to create and maximize small

medium enterprises to narrow down the economic development gaps among

ASEAN countries.

References

ASEAN Economic Community Blueprint. (2007) ASEAN 13th Summit.

Singapore

Departemen Perdagangan Republik Indonesia. Menuju ASEAN Economic

Community 2015

Hunton & William. (2008). Introduction to the ASEAN Community. Singapore :

International Law Office

Y, Agus. (2011, June 20). Pola Pencangkokan Usaha Perkecil Kegagalan

Wirausaha. Pkesinteraktif. Retrieved from

http://www.pkesinteraktif.com/bisnis/umum/keuangan-mikro/2638-pola-
pencangkokan-usaha-perkecil-kegagalan-wirausaha.html